berita

Bukti Cetak Generasi Berwawasan Global, Santri PPI AMF Raih Best Position Paper dalam Ajang MUN 2025


MALANG – Santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF), Muhammad Kuffih Taqiyyudin berhasil mendapatkan predikat best position paper dalam ajang Brawijaya Model United Nations (MUN) 2025. Raihan ini menjadi bukti komitmen PPI AMF dalam mencetak generasi berwawasan global.

Muhammad Kuffih Taqiyyudin (15 tahun) berhasil meraih penghargaan Best Position Paper sebagai delegasi Jepang dalam bidang ECOSOC (Economic and Social Council). Makalah yang dibuat santri yang disapa Taqi ini mengangkat pernyataan Jepang. “Terutama mengenai peran dan tanggapan Jepang dalam membantu pemulihan ekonomi pascabencana,” jelas santri SMA Abdul Malik Fadjar tersebut saat ditemui di PPI AMF, beberapa waktu lalu.

Taqi mengatakan, makalah yang ia tulis wajib menggunakan bahasa Inggris baku. Oleh karena itu, situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi santri asal Malang ini. Ditambah lagi, ini menjadi pengalaman pertama Taqi dalam mengikuti ajang tersebut.

Menurut Taqi, tantangan tersebut berhasil dihadapi berkat persiapan yang diberikan PPI AMF. “Dengan bantuan dari pembina, Ustadz Iqbal dan narasumber yang didatangi oleh Ustadzah Wilda, jadi bisa menerka-nerka,” ucapnya.

Sebelum ditetapkan sebagai perwakilan Jepang dalam ajang MUN, Taqi sebelumnya memilih dua negara saat pendaftaran, yakni Kanada dan Jepang. Proses ini menyesuaikan ketentuan yang diberikan UB selaku penyelenggara. Setelah itu, barulah ditetapkan bahwa dia menjadi perwakilan Jepang dalam MUN 2025.

Taqi mengaku sengaja memilih negara-negara tersebut dalam ajang MUN. Dia lebih mengutamakan negara yang tidak terlalu problematik tetapi punya turut andil menangani ekonomi dan sosial.


MALANG, 30/10 SANTRI PONDOK PESANTREN INTERNASIONAL ABDUL MALIK FADJAR (PPI AMF), Muhammad Kuffih Taqiyyudin menampilkan sertifikat penghargaan best position paper di PPI AMF, Kamis (30/10/2025). Penghargaan tersebut didapatkannya dalam ajang Brawijaya Model United Nations (MUN) 2025, yang diselenggarakan pada 18– 19 oktober 2025. Pada ajang tersebut, santri disapa Taqi tersebut berperan sebagai delegasi Jepang. FOTO PPI AMF/ Muhammad Shaquille Suharto/2025


Pada ajang ini, Taqi mengikuti kegiatan MUN secara daring. Sebab itu, topik masalah yang diangkat lebih fokus pada sosial dan ekonomi. Kondisi ini berbeda dengan kegiatan yang dilaksanakan secara luring di Malang.

Wakil Kepala Sekolah PPI AMF Bidang Kesiswaan, Iqbal Alfian  Rusydi mengatakan, MUN menjadi ajang pertama kali bagi PPI AMF untuk mengirim delegasinya. Pada kegiatan ini, para peserta berperan sebagai delegasi negara dalam simulasi sidang PBB. Adapun tema yang diangkat oleh MUN tahun ini adalah “Strengthening Diversity Response in Handling Humanitarian Crises.”

PPI AMF mengirim sekitar 14 orang dari jenjang SMA. Dari jumlah tersebut, 11 santri mengikuti secara daring sedangkan lainnya mengikuti secara luring di Hotel Rayz UMM. Kegiatan ini dilaksanakan selama kurang lebih dua hari, yaitu 18 – 19 oktober 2025.

Iqbal berharap partisipasi para santri dalam ajang ini dapat membentuk pemimpin berwawasan global yang berani berbicara di forum internasional. Mereka yang ikut MUN dapat bersosialisasi dengan peserta luar negeri. Ke depannya, kemampuan public speaking juga meningkat termasuk dalam berbahasa Inggris.

Salah seorang peserta MUN dari PPI AMF, Thaariq El Haq Bahtiar juga mengungkapkan hal sama. Kegiatan MUN dianggap dapat melatih kemampuan public speaking. “Juga melatih bahasa asing dan kita bisa mengetahui isu-isu global lewat artikel atau berita yang kita teliti,” ungkapnya.

Apresiasi terkait kegiatan MUN juga muncul dari santri PPI AMF lainnya, Khairunnisa Aqila Nurrahima. Ia mengaku terkesan dan ajang tersebut menjadi hal yang tidak akan mudah untuk dilupakan. Sebab, kegiatan ini merupakan pengalaman pertama baginya.

Dari kegiatan tersebut, perempuan asal Malang ini dapat merasakan atmosfer tegang antardelegasi di dalam ruangan konferensi. Dia juga dapat melihat bagaimana mereka berpikir cepat dalam menanggapi topik yang dibahas. Kemudian juga bisa mengamati bagaimana para delegasi berpikir rasional terhadap solusi-solusi yang diajukan.

Pewawancara: Haidar abimanyu Tuarita dan Alvin Maulana Azidan
Editor:Wilda Fizriyani